Saya membuka kursus Bahasa Inggris sejak Agustus 2018. Saya sendiri bukan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris atau pun lulusan Sastra Inggris. Saya lulusan pendidikan sejarah, tetapi saya memiliki passion dalam Bahasa Inggris, Edukasi, dan bisnis. Saya sering mengikuti lomba pidato bahasa inggris maupun debat bahasa inggris.  Mungkin banyak yang ragu awalnya. Tetapi passion dan tekad saya mampu meyakinkan banyak orang untuk mengikuti kursus di tempat kursus saya.

Motif utama saya mendirikan kursus awalnya karena financial, jujur saja. Saya hendak melanjutkan studi S2 di UGM. Kalau saya cuma bekerja menjadi guru honorer di sekolah, saya tidak akan pernah punya cukup uang untuk membayar biaya kuliah S2 di UGM. Mau ikut CPNS, juga masih lama dan kemungkinan berhasil tipis.

Akhirnya saya memilih membuka usaha. Saya kebetulan lulusan SMK. Jadi saya sudah akrab dengan dunia usaha. Sejak SMK saya sudah sering berdagang. Berdagang makanan, jasa foto, buku, apa saja yang menghasilkan uang. Sewaktu kuliah juga saya sering kerja part time di kafe, atau ambil tender konsumsi kalau ada acara seperti rapat organisasi, ulang tahun teman, selamatan sidang, dan lain-lain.
Semua pengalaman itu akhirnya membentuk rasa nekad saya mendirikan kursus Bahasa Inggris. Padahal saya lulusan pendidikan sejarah. 

Namun ternyata perbedaan jurusan itu justru membuat murid-murid saya bersemangat. Mereka merasa bahwa bukan hanya lulusan bahasa Inggris yang bisa berbahasa inggris. Semua orang bisa berbahasa inggris. Perbedaan ini juga membuat saya punya keunikan. Banyak murid saya yang kaget ketika tahu bahwa saya lulusan sejarah. Kekagetan itu lantas diceritakan kepada orang lain. Alhasil, orang lain jadi penasaran. Keunikan ini membuat saya berbeda dan cepat dikenal.

Semakin ke sini, niat saya membuka bisnis kursus bahasa inggris bukan hanya untuk mencari uang biaya S2. Niat saya lebih dari itu. Kesadaran saya sebagai guru turut tumbuh. Saya merasa saya bertanggung jawab atas keberhasilan murid saya. Banyak murid saya yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka bersedia menyisihkan uang untuk belajar bahasa inggris. Saya sangat menghargai itu, karena saya pribadi juga berusaha menyisihkan uang untuk biaya S2.

Oleh karenanya, saya berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat murid-murid saya paham Bahasa Inggris. Saya tidak hanya mengajarkan pelajaran bahasa inggris, namun juga memotivasi mereka untuk berani berjuang. Banyak pula siswa saya yang datang dari jauh. Ada yang harus menempuh perjalanan satu jam. Bahkan ada yang setiap hari naik kereta dari Klaten ke tempat kursus saya di daerah Sukoharjo. Saya sangat menghargai energi, waktu, dan uang yang mereka korbankan untuk mengikuti kursus di sini.

Saya juga punya keyakinan bahwa usaha saya bukan hanya untuk mencari uang semata. Saya yakin usaha saya adalah ibadah saya. Dengan saya melakukan yang terbaik, dengan saya bisa memberi manfaat sebanyak mungkin kepada semua murid saya, saya berharap pahala, saya berharap pula kebaikan yang berlipat untuk semua murid saya. Memaksimalkan bakat yang kita miliki, saya rasa adalah bentuk syukur paling khidmat. Karena dengan begitulah rezeki berupa bakat yang Allah berikan tidak akan sia-sia. Nikmat yang Allah berikan justru bisa memberi manfaat sebanyak mungkin. Karena niat untuk ibadah inilah saya terus termotivasi untuk membesarkan usaha saya ini.

0 Komentar